TANPA PUPUK BERSUBSIDI, PETANI GRESIK HASILKAN PADI 13,52 TON/HA



Bupati Gresik Dr. KH. Robbach Ma’sum, Drs, MM melakukan panen raya di desa Sukorejo, Sidayu Gresik. Selasa (24/3). Panen raya kali ini berlangsung di lahan milik kelompok tani “rukun raharjo” hasil kerjasama dengan formulator produsen pupuk phospat mineral organic.

Ternyata, ditengah langkanya ketersediaan pupuk bersubsidi untuk petani di Gresik, panen raya kali ini dapat menghasilkan 8,4 ton/ha gabah kering panen (GKP) dengan menggunakan pupuk phospat mineral organic. Bandingkan dengan produksi rata-rata yang hanya antara 5 – 6 ton/ha gabah kering giling (GKG).


Hasil panen di Sukorejo ini bukannya hasil terbaik. Dari 102 lokasi kerjasama di 15 kecamatan, Panen terbaik diraih oleh kelompok tani kedanyang di desa Kedanyang Kecamatan Kebomas yang menghjasilkan 13,52 ton/ha. Sedangkan di desa Klampok Benjeng menghasilkan 11,52 ton/ha dan di desa Sumbergede Wringinanom menghasilkan 10,56 ton/ha gabah kering panen (GKP)

Menurut Bupati Gresik, “penggunaan pupuk alternative ini merupakan salah satu upaya Pemkab Gresik untuk mengantisipasi langkanya pupuk bersubsidi. Langkanya pupuk bersubsidi di Kabupaten pada akhir-akhir ini karena antara kebutuhan dan alokasi. Misalnya urea, kebutuhannya sebanyak 27.022 ton/tahun sedangkan alokasi dari Pemerintah sesuai Peraturan Gubernur No. 7 tahun 2009 hanya 12.036 ton. Untuk menutup kekurangan inilah Pemerintah berupaya mencari pupuk alternative agar produksi padi tetap stabil dan bahkan meningkat”.

Ditambahkan oleh Bupati, luas lahan padi pada tahun 2008 sebesar 50.525 ha/tahun, dengan produksi rata-rata sebesar 5,73 ton/ha dan total produksi padi tahun 2008 sebesar 289.489 ton. Di Tahun 2009 ini, kami harap ada kenaikan produksi sebesar 5 % atau 6,017 ton/ha.

Terkait harapan Bupati Gresik ini serta dengan kejadian bencana banjir yang melanda wilayah Gresik utara dan selatan, kepala Dinas Pertanian melalui kabag humas Pemkab Gresik, M. Hari Syawaludin mengatakan”kendati Gresik dikepung banjir, namun kerusakannya hanya 1 sampai 2 % saja atau 166,7 ha. Jadi tidak terlalu mengganggu produksi padi.

Yang paling menggembirakan, adalah adanya kesiapan dolog untuk membeli hasil panen petani sesuai inpres No 8 tahun 2008 dengan harga Rp. 2.400/kg untuk gabah kering panen dengan kadar air 26%, dan Rp. 3.000,- untuk gabah kering giling dengan kadar air 18%. (sdm, Humas Pemkab Gresik)



digg it
buzz yahoo
google
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
reddit

0 comments:


Post a Comment

Posting Terakhir

Paid Review Indonesia
 
  • Hack Facebook Sebagaimana laporan Techcrunch, Firesheep telah di download ribuan kali sejak di luncurkan beberapa waktu lalu. Firesheep adalah salah satu software Add-ons browser Mozilla Firefox terbaru yang di gunakan...
  • Sharing Foto di Yahoo Messenger Yahoo Messenger atau yang sering disingkat dengan YM memiliki fasilitas untuk share picture kepada chatter lain. Dengan demikian jika dua chatter saling melakukan Private Message, maka keduanya bisa saling...
  • Mujaher Korek Menu ikan panggang banyak di jumpai di sejumlah daerah. Namun, menu ikan mujaher panggang dengan sambal terasi pedas khas Jawa Timuran, hanya ada di Lamongan. Mujaher panggang hadir dengan....
  • Batik Gorga Khas Batak Memadukan motif khas Batak dengan aneka warna, bengkel kreasi yang telah berdiri sejak tahun 2008 lalu, menghasilkan aneka ragam kain batik khas tanah Batak yang memiliki nilai estetika yang cukup tinggi....
  • Awet Muda Dengan Pisang Getuk merupakan makanan tradisional, umumnya terbuat dari singkong. Namun, warga di kaki gunung Slamet tepatnya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja,...