GURIH, RASA KHAS PINDANG BAMBU IKAN SIDAT



Aneka jenis ikan di Kabupaten Kaur Propinsi Bengkulu, melahirkan berbagai menu masakan khas daerah dengan bahan utama dari ikan seperti dendeng sidat, pepes, presto, sop, kobayaki, sidat asap dan lain-lain. Salah satunya yang popular di Kabupaten Kaur adalah pindang bambu ikan Sidat.

Huas Sidat adalah menu masakan yang terbuat dari ikan Sidat batik yang hanya terdapat di perairan Kaur, Bengkulu. Konon, pada zaman penjajahan Jepang, mereka sangat menyukai ikan Sidat ini. Makan ikan sidat atau dikenal dengan Unagi, bukanlah makanan biasa, tetapi termasuk termahal di restoran Jepang sehingga bila kita dijamu dengan hidangan makanan tersebut, menunjukkan kita sebagai tamu terhormat. Ciri khas ikan Sidat adalah bertelur dilaut dalam, menetas di muara muara sungai dan membesar di air tawar

Sebelum dimasak, ikan Sidat segar dibersihkan dan dipotong-potong menjadi beberapa bagian kecil. Bentuknya yang panjang hampir menyerupai belut mempermudah proses pemotongannya. Bumbu yang digunakan adalah jahe, kunyit, bawang merah dan putih, daun serai, daun bawang, tomat dan cabe merah.

Irisan bumbu diatas diaduk bersama ikan Sidat yang sudah dipotong-potong. Lalu diberi garam, penyedap rasa dan air putih secukupnya. Ikan Sidat yang sudah diberi bumbu, selanjutnya dimasukkan kedalam bambu. Bambu yang digunakan harus bambu muda agar nanti saat dibakar, bambu akan mengeluarkan air yang akan membuat masakan kian gurih dan memiliki cita rasa tersendiri.

Cara memasak huas Sidat memang tergolong unik dan memakan waktu lama. Yakni, sekitar dua jam dibakar diatas bara api. Ikan Sidat harus dipastikan benar-benar matang agar tidak amis dan bumbunya betul-betul meresap kedalam serat daging ikan.

Huas Sidat sangat digemari oleh masyarakat kabupaten Kaur. Masakan ini bisa dipesan di berbagai restoran atau rumah makan yang ada di daerah tersebut.

Biasanya, huas Sidat dimakan dengan nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Tradisi ini mereka lakukan sudah sejak zaman nenek moyang mereka dulunya.

Selain lezat dan gurih, air bambu yang meresap ke dalam serat daging ikan membuat masakan ini memiliki rasa yang berbeda dengan menu masakan ikan lainnya.

Mengenai harga, huas Sidat rata-rata dijual dengan harga 35.000 hingga 45.000 Rupiah setiap porsinya. Memang sedikit mahal, tapi sebanding dengan kelezatannya. Penasaran, silahkan berkunjung ke restoran di kabupaten Kaur!!



digg it
buzz yahoo
google
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
reddit

2 comments:

heru said...

perbanyak lagi koleksi kulinernya biar bisa jadi resensi

Anonymous said...

terima kasih anda memperkenalkan kebudayan kaur. saya berasal dari kabupaten kaur mau tnya ni apa sih bahasa ikan sidat bahasa kaur


Post a Comment

Posting Terakhir

Paid Review Indonesia
 
  • Hack Facebook Sebagaimana laporan Techcrunch, Firesheep telah di download ribuan kali sejak di luncurkan beberapa waktu lalu. Firesheep adalah salah satu software Add-ons browser Mozilla Firefox terbaru yang di gunakan...
  • Sharing Foto di Yahoo Messenger Yahoo Messenger atau yang sering disingkat dengan YM memiliki fasilitas untuk share picture kepada chatter lain. Dengan demikian jika dua chatter saling melakukan Private Message, maka keduanya bisa saling...
  • Mujaher Korek Menu ikan panggang banyak di jumpai di sejumlah daerah. Namun, menu ikan mujaher panggang dengan sambal terasi pedas khas Jawa Timuran, hanya ada di Lamongan. Mujaher panggang hadir dengan....
  • Batik Gorga Khas Batak Memadukan motif khas Batak dengan aneka warna, bengkel kreasi yang telah berdiri sejak tahun 2008 lalu, menghasilkan aneka ragam kain batik khas tanah Batak yang memiliki nilai estetika yang cukup tinggi....
  • Awet Muda Dengan Pisang Getuk merupakan makanan tradisional, umumnya terbuat dari singkong. Namun, warga di kaki gunung Slamet tepatnya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja,...