Berburu Software Gratis di 4shared-4SHARED merupakan salah satu Web storage online terkenal, yakni suatu situs yang menyediakan fasilitas penyimpanan file secara online melalui proses upload dan Download. Dalam hal ini, layanan 4shared bersifat gratis. Karena itu, banyak memiliki peminat, sehingga software yang tersimpan di 4shared, cukup beragam. Di samping proses registrasi yang mudah, 4shared menawarkan banyak sekali[Selengkapnya]
Budidaya Ayam Petarung-Awalnya hanya sekedar iseng untuk hiburan tatkala Muhammad Nasir Kholil banyak mengalami berbagai persoalan hidup. 1 ekor ayam petarung miliknya, selalu menemani pria warga Desa Sidojangkung Kecamatan Menganti, setelah seharian sibuk bekerja sebagai salah satu anggota DPRD Kabupaten Gresik dari Fraksi PKB. Karena hobinya pada ayam petarung, Nasir kemudian mencoba mengawinkan ayamnya dengan indukan[Selengkapnya]

Berlangganan, Masukkan alamat Email

FESTIVAL DJALU, PUASI KERINDUAN AKAN GRESIK DJAMAN DULU

Terdorong keinginan menikmati kuliner Gresik Jaman dulu, Minggu pagi ini, (31/8) sengaja saya mengajak keluarga untuk menyambangi deretan stand kuliner yang ada di sekitar Jalan Nyi Ageng Arem Arem. Disana tampak berjejer stand berbagai macam makanan khas Gresik yang sampai sekarang masih akrab di lidah masyarakat Gresik.

Kedatangan kami sekeluarga pagi ini terdorong oleh rasa penasaran saya ketika semalam sesaat sebelum dibuka festival Gresik Jaman dulu, ternyata semua sajian kuliner yang ada di Jalan Nyi Ageng Arem-Arem dan sekitar Kampung Kemasan telah ludes. Stand-stand banyak yang sudah tutup. Sebagian lagi ada yang tengah mengemasi peralatan masaknya. “Habis pak, besok pagi saja datang lagi. Sudah habis sejak tadi” kata Lilik asal Pekelingan yang menjual sego romo dan arang-arang kambang.

Untunglah rasa kecewa saya semalam terobati ketika masuk ke Kampung Kemasan yang disambut pemandangan yang luar biasa indah. Tampak rumah-rumah kuno dengan ornamen tempo dulu yang kini dibukukan sebagai cagar budaya Gresik ini terlihat sangat mempesona. Pantulan sinar yang temaram yang terpancar dari ratusan damarkurung yang tergantung seakan memberikan suasana damai. Kenikmatan itu bertambah manakala seorang dara cantik dari paguyuban Cak dan Yuk Gresik menyodorkan secangkir kopi pahit kental. “Ini kopi khas Gresik” katanya sambil tersenyum ramah.

Berbeda dengan semalam, pagi ini saya benar-benar ingin menikmati sajian kuliner khas Gresik setelah semalam gagal saya dapatkan. Hampir semua lapak yang ada di tenda-tenda banyak dikerumuni pembeli. Terutama menu khas Gresik yang lazim dipakai untuk sarapan pagi diantaranya sego krawu, sego romo, sego mener lengkap dengan bali welutnya, dan sego karak dengan lauk gimbal tempe. Mungkin saja para pembeli ini ingin menikmati sarapan pagi bersama keluarga dengan menu khas yang sekarang tampak mulai jarang ditemui.

Untuk sarapan pagi, saya tertarik dengan sajian menu sego mener. Menu ini terdiri dari nasi dengan kuah sayur kangkung yang dirajang. Terasa sangat nikmat ketika dipadu dengan lauk bali welut. Hanya dalam beberapa menit sepiring sego mener tandas sudah. Ternyata, dari kerumunan pembeli tak hanya didominasi oleh generasi tua. Para generasi muda Gresik juga suka sajian kuliner khas Gresik jaman dulu. Hal ini tampak dari para pembeli yang kebanyakan anak-anak muda.

Seperti yang diharapkan Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto saat membuka festival Gresik Jaman dulu semalam yang menyatakan, Festival ini diadakan agar kita tidak kehilangan sejarah dan identitas kota Gresik. “Budaya, kesenian dan tradisi masyarakat Gresik yang kaya ini wajib kita lestarikan termasuk bangunan-bangunan kuno yang bersejarah untuk kita wariskan kepada generasi yang akan datang” ujarnya.

Semua yang ada disini ini mulai dari bangunan, kuliner, kerajinan khas dan tradisi masyarakat merupakan sebuah ikatan erat yang berkesinambungan. “Saya berharap kepada para ahli sejarah dan pakar untuk melakukan banyak penelitian mempelajari peninggalan situs artefak guna kepentingan keilmuan. Hal ini penting untuk anak dan cucu kita yang akan datang” jelas Sambari.

Setelah membuka festival yang diiringi kesenian khas pencak macan, Bupati dan Wakil Bupati beserta Isteri dan Muspida Gresik berkeliling melakukan peninjauan ke seluruh Stand. Rombongan yang diikuti oleh puluhan Pejabat dan masyarakat ini dimulai dari deretan stand di jalan Raden Santri, jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Nyai Ageng Arem Arem, Kemudian masuk ke Kampung Kemasan. Banyak yang menarik perhatian orang nomor satu Gresik ini.

Di Stand yang dikelola masyarakat pecinta sejarah Gresik, Bupati memperhatikan beberapa lukisan yang merupakan lukisan beberapa relief yang ada di situs situ makam aulia di Gresik. Beberapa kerajinan orang Gresik dan cendera mata juga tak luput dari perhatian Bupati. Bahkan Bupati dan isteri sempat membeli beberapa kerajinan Gresik serta membeli kopi bubuk yang katanya khas Gresik. “ini sepertinya prototipe gapura yang ada di gerbang makam Sunan Giri” tambah Bupati saat memperhatikan cenderamata berbentuk naga. (sdm)

Selengkapnya...

SEDEKAH BUMI DENGAN TABUR UANG DAN MENGARAK 190 AMBENG

Ritual sedekah bumi yang digelar warga Desa Pangkatrejo Kecamatan Lamongan Kabupaten LamonganJawa Timur, Jum’at pagi(29/08/2014) tersebut, diawali dengan sawur duwit atau menabur uang logam. Sawur duwit berisi uang logam dan beras kuning ini, diperebutkan warga mulai dari anak anak hingga orang dewasa.

Meski anak anak dan orang dewasa terlibat saling dorong, ritual sawur duwit lazim digelar sebagai ritual tolak balak atau musibah. Ritual sawur duwit juga diiringi dengan petasan.

Sedekah bumi kemudian dilanjutkan dengan mengarak 190 ambeng keliling desa. Arak arakan ambeng hasil bumi ini, dikhususkan bagi kaum laki laki. Selain hasil bumi diletakkan di sebuah replika rumah, juga disajikan di atas tampah atau wadah bundar tradisional dari anyaman bambu.

Ambeng ini mengandung makna-makna mendalam yang mengangkat hubungan antara manusia dengan maha pencipta, serta dengan alam dan sesama manusia.

Menurut Serman, Kepala DesaPangkatrejo, mengarak ambeng sebagai wujud rasa syukur kepada yang maha kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya.”Kita bersyukur akan nikmat hasil bumi bisa semakin berlimpah”, ujarnya.

Ritual sedekah bumi ini ditutup dengan pembagian hasil bumi kepada warga secara merata, dengan diiringi musik gending gending jawa. Selain dibagikan ke warga, hasil bumi juga dimakan bersama sama.

Sedekah bumi juga merupakan representasi dari bentuk kehidupan sosial yang relevan dengan perkembangan zaman sekarang. berikut ini videonya:

Selengkapnya...

NIKMATI IKAN LAUT DENGAN SENSASI MAKAN SEPUASNYA KOCEK SEADANYA

Selama ini, jika Anda ingin menikmati kuliner ikan laut mungkin Anda harus memiliki uang lebih agar bisa makan sepuasnya, apalagi untuk menu sea food atau ikan laut. Namun di Pacitan, jawa timur, sebuah warung justru memberikan sensasi yang berbeda. Untuk makan sepuasnya konsumen hanya membayar uang seadanya, namun bisa makan sekenyangnya.

Jika Anda berkunjung ke Pacitan jawa timur dengan uang pas-pasan, tidak ada salahnya Anda mampir di warung sederhana milik Bu Sri atau Mbah Gito di utara alutn-alun kota. Saat masuk ke warung, Anda akan langsung disapa Mbah Gito untuk mempersilahkan Anda menikmati menunya. Namun berbeda dengan warung pada umumnya, setiap pembeli biasanya langsung memberikan uangnya terlebih dahulu sebelum makan.

Uniknya lagi, uang diberikan untuk makan sesuai dengan yang dimiliki pembeli saat itu. Namun meski uangnya berbeda jumlah, menu yang disajikan tetap sama. Membayar uang 3 ribu dengan uang 6 ribu pembeli tetap akan menikmati beragam olahan ikan laut dengan porsi sama. Untuk itulah warung ini biasa disebut warga sebagai warung wareg, karena meski uang pas-pasan bisa mengambil nasi dan lauk sepuasnya sesuai porsi perut masing-masing.

Menu yang ditawarkan di warung ini juga tak kalah mewahnya dengan warung-warung besar di Pacitan. Yang paling spesial biasanya adalah jathilan, yaitu ikan goreng tepung singkong di tambah sambal bawang, lalu dipadukan dengan sayur kepala hiu dan kalakan. Jathilan ini biasanya enak dinikmati saat masih hangat, setelah diproses langsung dan digoreng. Warung ini muncul sejak tahun 1993 silam, saat itu Mbah Gito yang biasa menjadi kuli sering tidak bisa makan saat bekerja karena di warung harganya mahal, sehingga ia terisnpirasi untuk membuat warung seperti ini.

Meksi demikian pemiliknya mengaku tidak rugi karena jika ada yang membeli dengan uang lebih bisa untuk subsidi bagi yang membeli dengan uang yang sedikit. Para pembelinya pun beragam, mulai dari kuli bangunan, pekerja pabrik hingga pegawai negeri di lingkungan pemerintah kabupaten Pacitan, setiap hari ia pun mampu meraup uang 1 hingga 2 juta rupiah.

Selengkapnya...

MENIKMATI DURIAN BAWOR SEBERAT 12 KG

Anda penggemar durian dan belum pernah mencicip durian seberat 12,5 kilogram? Anda harus ke Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjeng, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, karena di sana ada durian bawor berukuran raksasa.

Salah satunya adalah areal perkebunan durian milik Pak Sarno Ahmad Darsono yang lokasinya berada di jalur utama kota Purwokerto-Jogjakarta. Ada banyak varietas durian di sini. Saat puncak musim durian seperti sekarang ini, kebun pak sarno seperti surga bagi pecinta durian.

Ada durian impor monthong yang terkenal, ada durian emas, durian petruk dan lain-lain. Semuanya siap dipetik langsung dari pohon dan dinikmati. Tetapi ada durian yang paling istimewa di sini, yaitu durian Bawor.

Istimewa karena ukurannya yang raksasa. Durian matang bisa mencapai berat 12,5 kilogram. Dengan ukuran dan berat seperti ini, bisa dibayangkan daging buahnya, hmm..enaaak!

Varietas bawor ini diciptakan sendiri oleh Sarno. Dari berbagai jenis durian unggul, Sarno menciptakan bawor dengan teknik sarakapita, jadi batang tidak tunggal melainkan multi batang. Setelah benar-benar pas kualitas buahnya, baru dikembangkan secara generatif atau melalui biji-nya.

Dinamai Bawor karena nama ini adalah nama tokoh wayang yang khas menggambarkan ciri kabupaten Banyumas. Selain itu, Bawor juga tokoh yang berbadan gemuk dan lucu.

Soal harga, sebanding dengan ukuran dan rasanya, 35 Ribu Rupiah per kilogram. Tapi, kalau anda mau menanam sendiri harga bibitnya relatif murah, hanya 100 Ribu Rupiah per buahnya.

Selengkapnya...

TERAPKAN HYPNOBIRTHING, BIDAN DESA JADI PERCONTOHAN NASIONAL

Menjadi bidan di pedalaman pedesaan Lamongan bukan berarti jauh dari inovasi dan pengetahuan baru. Suhartatik Qomariyatun, Bidan Delima di Dusun Kalibogo Desa Kaliwates Kecamatan Kembangbahu menerapkan hypnobirthing dan hypnotheraphy sehingga menjadi percontohan Nasional.

Menuju Dusun Kalibogo Desa Kaliwates di Kecamatan Kembangbahu tidaklah sulit. Berjarak 15 kilometer dari pusat Kota Lamongan, akses menuju dusun ini sudah memadai dengan jalan beraspal.

Tempat praktek Bidan Suhartatik Qomariyatun sendiri berada sekitar 2 kilometer di selatan Pasar Kembangbahu. Jika tidak ada sebuah papan putih penanda bertuliskan Bidan Praktek Mandiri (BPM) Aura Syifa’ dengan logo bidan delima di depan rumahnya yang asri, bagi orang luar Kembangbahu mungkin tidak akan mengenali tempat praktek tersebut.

Namun bagi masyarakat Kembangbahu, mereka sudah mengenal bidan yang diangkat menjadi bidan desa sejak 1993 ini sebagai tenaga kesehatan yang cakap. Karena dia dikenal tidak pernah lelah menambah pengetahuan kesehatan.

Ketekunannya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, membawa lulusan D3 Politeknik Kesehatan Poltekkes Surabaya ini menjadi percontohan nasional oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Terutama untuk percontohan nasional bagi Bidan Delima lain di Indonesia.

Menurut bidan yang dilahirkan di Lamongan pada 10 Maret 1969 silam ini, dia sudah menjadi Bidan delima sejak tahun 20015. Kemudian di tahun 2010 menjadi fasilitator bagi Bidan Delima.

Di tahun 2010 pula, dia mulai menerapkan ilmu hypnosis dalam kebidanan. Yakni yang meliputi hypnobirthing (melahirkan tanpa rasa nyeri) dan hypnotheraphy (untuk pengobatan penyakit).

“Saya lulus sekolah bidan di tahun 1992 dari Pendidikan dan Pelatihan Bidan (P2B) Rumah Sakit Islam Surabaya dan mulai memberikan pelayanan di Januari tahun berikutnya. Saya mulai tertarik dengan konsep Bidan Delima untuk meningkatkan kualitas pelayanan oleh bidan sejak ada tuntutan peningkatan pelayanan, standard an kualitas yang disosialisasikan oleh Dinas Kesehatan Lamongan dan IBI, “ tutur dia.

Selama menjadi bidan delima, Suhartatik mengatakan ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi karena adanya tuntutan peningkatan saranan dan kualitas layanan tersebut. Diantaranya dari segi biaya untuk membeli peralatan dan keharusan untuk memperbanyak wawasan ilmu pengetahuan baru.

Untuk mencukupi peralatan, secara bertahap dia menyisihkan sebagian penghasilannya. Juga dengan merekrut bidan lainnya untuk menjamin kualitas layanan dari sisi administrasi.

Sementara dari sisi wawasan ilmu pengetahuan baru, tidak kurang dari 14 kali dia mengikuti berbagai pelatihan dan diklat. Diantaranya mengikuti pelatihan hypnobirthing dan hypnotheraphy.

“Khusus untuk hypnobirthing dan hypnotheraphy ini saya merampungkan tiga kali kursus. Yakni basic hypnosis and hypno-birthing, has completed hypnosis dan hypnotherapy mastery serta advanced hypnosis in obstretic, “ ujarnya.

Untuk program ibu hamil dengan hypnobirthing dan hypnotheraphi ini, dia membuka kelas setiap dua minggu sekali dengan setiap ibu hamil minimal mengikuti selama tiga kali di masa kehamilannya.

“Harapannya, ibu hamil pada masa kehamilan dan saat proses persalinan merasa nyaman dan tenang. Karena pada umumnya ibu hamil muda sering merasa mual dan muntah serta merasakan nyeri saat proses persalinan, “ katanya memberi penjelasan.

Wulandari (18) salah satu pasiennya yang melahirkan di BPM Aura Syifa’ menuturkan, waktu melahirkan dia tidak merasakan nyeri. “Saya ikut kelas hypnobirthing dan hypnotheraphi selama dua kali. Saat melahirkan, tidak terasa apa-apa dan prosesnya juga cepat. Padahal saat masuk ke sini jam 8.30, saya sudah pembukaan II, “ ujarnya sambil menggendong anaknya yang baru berusia beberapa hari.

Sulfi (23) ibu hamil lain yang juga mengikuti hypnobirthing dan hypnotheraphi mengungkapkan, dia merasa lebih tenang selama masa kehamilannya yang sudah mencapai usia 38 minggu tersebut.

Bidan Delima sendiri adalah program IBI yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2001 dengan lebih dari 9.000 anggota di 21 propinsi. Bidan Delima melakukan standarisasi keahlian, kompetensi, peralatan, sarana dan prasarana serta manajemen klinik agar sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan RI.

Sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan bidan, terutama pelayanan kesehatan reproduksi dan keleuarga berencana. Dengan tujuan, mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian Ibu, Bayi dan Anak.

Selengkapnya...

Posting Terakhir

 
  • Hack Facebook Sebagaimana laporan Techcrunch, Firesheep telah di download ribuan kali sejak di luncurkan beberapa waktu lalu. Firesheep adalah salah satu software Add-ons browser Mozilla Firefox terbaru yang di gunakan...
  • Sharing Foto di Yahoo Messenger Yahoo Messenger atau yang sering disingkat dengan YM memiliki fasilitas untuk share picture kepada chatter lain. Dengan demikian jika dua chatter saling melakukan Private Message, maka keduanya bisa saling...
  • Mujaher Korek Menu ikan panggang banyak di jumpai di sejumlah daerah. Namun, menu ikan mujaher panggang dengan sambal terasi pedas khas Jawa Timuran, hanya ada di Lamongan. Mujaher panggang hadir dengan....
  • Batik Gorga Khas Batak Memadukan motif khas Batak dengan aneka warna, bengkel kreasi yang telah berdiri sejak tahun 2008 lalu, menghasilkan aneka ragam kain batik khas tanah Batak yang memiliki nilai estetika yang cukup tinggi....
  • Awet Muda Dengan Pisang Getuk merupakan makanan tradisional, umumnya terbuat dari singkong. Namun, warga di kaki gunung Slamet tepatnya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja,...